Nyebelin nyebelin banget sie..
Kenapa justru sekarang gw yang di permainin ma dia??
Anjrit banget sie jadi manusia..
Mau nya apa coba..
Gw gag boleh kepancing ma omongan dia, ga boleh percaya dengan semua janji-janji palsu dia..
Come on dita,, lo udah tau dia sifatnya gimana.. apa iya lo masih ngarepin dia untuk berubah menjadi yang lo pengenin..
Gag mungkin dita..
Lo gag kenal dia sehari-dua hari..
Lo udah kenal dia luar-dalamnya, lo tau dia kaya apa, dia gag mungkin bisa berubah. Dia tetaplah dia.. seorang pecundang sejati, yang hanya bisanya mempermainkan perasaan lo doang. Ngertilah dikit ta, dengerin kata-kata teman-temen lo. Lo jangan egois. Mereka semua sayang sama lo, mereka ga pengen lo sakit untuk yang kedua kalinya. Mereka ngelarang lo ini-itu, karena mereka tau sifatnya dia gimana. Jangan butakan mata hati lo Ta. Lo bisa hidup tanpa dia. Dia udah cukup menyakiti hati lo, lo jangan mau kemakan lagi sama semua omongan dia. Coba lo pikir, dari dulu ampe sekarang apa iya dia pernah mikirin lo? Ga pernah kan!! Dia Cuma mikirin diri sendiri doang Ta. Gw harap lo gag melupakan semua kejadian itu dengan gampang. Cukup lo mengeluarkan air mata untuk dia. Cukup ta. Jangan lo tambah beban hidup lo dengan menggantungkan harapan lo ma dia. Dia ga cocok buat lo. Dia bukan buat lo! Dia hanya pengen lo selalu deket dia, tanpa ada status. Dia gag mau kehilangan lo, tapi dia rela nyakitin lo. Gw sendiri jadi bingung ma lo ta. Kenapa nasib lo jelek banget, mpe-mpe lo harus ketemu ma orang kaya dia. Dosa apa lo Ta, mpe disakitin kaya gini tapi lo masih berharap dengan janji-janji palsu dia. Buka mata lo ta, buka..
Jangan lo tutup mata lo dengan cinta. Cinta yang dia berikan gag tulus dari hati. Jangan sampai cinta membutakan mata hati dan pikiran lo ta. Gw kasian ma lo ta. Kaya ga da cowok lain aja, mpe-mpe lo harus bergantung terus ma dia. Ok mang dia berjasa banget buat lo, karena dia lah yang telah memberikan pelajaran tentang pacaran. Tapi lo inget ta, dia melakukan itu semua hanya sebagai kamuflase. Semua temen-temen lo juga udah tau itu. Dia hanya berpura-pura, berakting di depan lo. Dia bilang sayang ma lo, bilang cinta ma lo. Tapi itu semua hanya sekadar di bibir aja. Bukan dari hati. Disaat dia lagi terjatuh terpuruk dengan semua masalah yang dia bikin sendiri, justru dia lari ke lo, dia curhat ama lo, dia minta perhatian ama lo, dia minta lo dukung dia, support dia. Tapi giliran dia berbahagia telah mendapatkan apa yang dia inginkan, lihat, apa dia sedikitpun memandang lo? Apa dia peduli ma lo? Gag ta.. gag sama sekali.
Dia ga peduli sama lo, dia masa bodoh. Lo jangan jadi bego gini apa!! Kesel gw sama lo ta.. gw udah capek harus terus menerus sakit hati Cuma gara-gara dia Ta. Bikin gw seneng apa Ta, seneng yang bener-bener tulus datangnya dari hati. Bukan karena kebetulan belaka. Dengerin sedikit donk kata hati lo.. mereka juga capek ta dengan keadaan lo kaya gini.
Kurang cukup apa penderitaan yang dia berikan ke lo selama ini. lo dibikin kaya keledai tau gag, di depan teman-teman lo. Teman-teman lo sayang sama lo, mereka justru sangat mendukung kalo lo bener-bener ga ada hubungan ma dia. Bukan perhatian dari cowok macam dia yang lo perluin ta. Bukan. Lo salah besar. Gw ngerti lo butuh banget yang namanya perhatian, dimanjain. Lo butuh itu dari pacar lo, tapi inget bukan dari cowok macam dia.
Masih banyak cowok ta di dunia ini. Lo harus ngebuka diri lo untuk mereka, berikan mereka kesempatan untuk mengenal lo lebih jauh. Pikiran lo jangan hanya terpacu pada dia doank. Kalo pun di dunia ini Cuma tinggal dia doank cowoknya, mending lo tetap sendiri aja ta. Jangan pernah mau kemakan sama semua omongan dia. Gw capek terus megang janji-janji dia. Gw capek ngadepin emosi lo yang ga pernah ada juntrungannya. Biarkan semuanya mengalir seperti air, tapi lo tetep pada pendirian lo, lo harus menutup hati lo buat dia, buka hati lo buat semua cowok yang mau dekat dengan lo. Dia bukan jodoh lo ta. Bukan bermaksud untuk mendahului takdir tuhan, tapi kita realistis aja. Liat kenyataannya ajah. Baru pacaran ajah, udah nyakitin kaya gini, gimana kalo udah nikah? Mungkin dia nantinya kaya gerru iskak kali ya,, yang punya istri dimana-mana. Yang walaupun udah punya istri dan anak, tapi tetep ajah dengan santainya memperkenalkan pacar barunya yang seorang janda ke publik. Punya perasaan gag sie tuh orang. Jangan mpe lo ketemu ma orang kaya gitu deh ta. Sok kecakepan banget. Gag pernah ngehargain perasaan perempuan sedikitpun. Padahal kan dia lahir juga dari seorang perempua, yaitu ibu. Kenapa dia tega-teganya menyakiti perasaan perempuan. Aneh,, gag punya agama apa tuh orang..
Gw harap sie, mulai sekarang lo ga lagi kemakan omongannya dia deh ta. Gw bilangin nie ya, untuk setiap orang ga akan mungkin bisa berubah dengan cepat. Mungkin penilaian teman-teman lo terhadap dia tentang dia yang gag pernah konsisten, yang menyukai banyak cewek padahal lagi pacaran ama lo, mungkin itu gag pernah berubah. Itu memang sifat asli dia. So, sekarang lo cuekin ajah dia. Jangan lo tanggepin deh. Kalo dia mank pengen nyuekin balik lo, yaudah, jangan lo bikin kesan kalo lo bener-bener bergantung ama dia. Biarin aja dia maunya apa. Lo juga jangan pernah terlalu berharap ama dia. Udah males banget gw, ngadepin perasaan lo, yang terlalu optimis sama dia ta. Gw bingung jangan-jangan lo di pelet ya ma dia? Mpe-mpe lo gag pernah bisa ngelupain dia..
Gini ajah dah ya Dita, dia itu gag punya perasaan. Dia itu punya dendam pribadi dengan setiap perempuan, so, dia ngelampiasin itu semua ma lo. Lo nyadar donk. Dia ga sepenuhnya cinta ma lo. Lo liad perlakuan dia ke cewe2 yang bener2 dia suka. Beda kan ma lo. Dia bener2 memperlakukan mereka secara istimewa, sedangkan lo, udah kaya dianggap boneka ajah tau ga. Buka mata lo sekarang. Jangan lo mau makan janji-janji palsu dia............
Tampilkan postingan dengan label mantanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mantanku. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 November 2010
Jumat, 20 Agustus 2010
backstreet
BACKSTREET
Lagi lagi dia ragu akan perasaannya. Aku sempat bingung, sudah diberikan kesempatan kedua, namun malah begini jadinya. Susah ya menjadi tempat pelarian. Selalu tersakiti. Menjadi pihak yang terbebani dengan perasaan sendiri yang selalu saja memberikan harapan yang kelewat tinggi padanya. Pada mulanya tidak ingin memberikan harapan yang berlebih, namun hati ini terlalu rapuh sehingga dengan mudahnya ia mempermainkan kembali perasaan ini. Keraguan yang ia rasakan teramat menyakitkan. Tak ada kata ragu dalam suatu hubungan.
Semua ini karena kebodohan ku yang memberikannya kesempatan kedua, setelah ia dengan terang-terangan bercerita pada ku, kalau ia telah disakiti dan dipermainkan oleh seorang perempuan yang ia sukai. Ia bercerita seakan-akan hanya ia yang merasakan sakitnya menjadi permainan. Aku hanya masa bodoh saja. Aku bahkan mengucap rasa syukur, kalau ia merasakan hal itu juga. Walaupun kejam, tapi memang harus begitu. Ia terus bercerita, dan tidak pernah merasakan, membayangkan bagaimana perasaanku sebagai mantannya. Ia bercerita ia sangat mencintai perempuan itu. Bercerita tanpa dosa. Setelah ia puas menceritakan dari A-Z tentang hubungannya dengan perempuan itu yang sudah berakhir. Padahal mereka baru saja memulai proses pendekatan, tapi nyatanya perempuan itu malah memilih laki-laki lain daripada dia.
Di ujung sms’a, ia malah mengajakku untuk balikan dengannya. Setelah apa yang ia lakukan selama ini pada ku, dengan gampangnya mengajak balikan. Ada sedikit dendam di lubuk hatiku. Tapi sungguh aku tidak ingin melampiaskannya. Aku mengulur waktu, ketika ia terus bertanya bersediakah aku untuk balik lagi dengannya. Aku terus memantapkan kata-katanya. Ingat yang aku tulis hanya memantapkan kata-katanya, bukan hatinya. Karena aku tahu, sesungguhnya hatinya bukan untukku. Aku terus meyakinkan ia, kalau aku bukan hanya sekedar tempat pelarian saja, karena ia telah di kecewakan oleh perempuan itu. Dalam hati aku sungguh tak percaya lagi dengan kata-katanya mengenai cinta.
Akhirnya dengan sedikit rasa dendam di hati, dan banyak sekali setan yang membujuk untuk mengambil kesempatan ini. Akhirnya aku terima dia kembali, dengan alasan di hati hanya untuk mempermainkan ia kembali. Hanya 1 hari kami balikan. Karena sebenarnya aku juga tak tega melakukan itu semua. Karena kalau aku melakukan itu, apa bedanya aku dengan dia. Sama-sama menyakitkan. Tapi ada rasa di dalam lubuk hati ini, yang tak tega melepaskannya pergi. Akhirnya dengan segala macam alasan aku backstreet dengan dia. Sahabat-sahabat aku tidak tahu kalau aku backstreet dengan dia.
Pilihan ini aku rasa cukup adil. Mengingat image dia di mata teman-teman semua sudah teramat buruk. Sebagai seorang laki-laki, ia sudah tidak ada harganya lagi, semua perempuan mencela dia. Karena sikapnya yang gag konsisten, suka terhadap banyak perempuan. Memang beberapa teman laki-laki memberikan pandangannya terhadap perasaan suka itu, tapi apa yang dilakukan dia sangat kelewat batas. Ia menyukai banyak perempuan, tapi bukan aku pacarnya sendiri. Aku malu didepan teman-teman. Mereka mengasihi ku karena aku mendapatkan pacar sepertinya. Mereka bahkan senang waktu tahu aku putus dengan nya.
Sampai sekarang aku masih backstreet dengan dia. Tapi cukup sampai hari ini saja. Karena keraguan itu telah muncul, sehingga rasa sayang dia telah memudar untuk ku. Untuk apa lagi aku mempertahankan dia di sisiku. Sudah tak ada gunanya lagi. Jalan backstreet ini aku pilih untuk menguji seberapa seriusnya dia terhadapku. Tapi kesempatan yang telah aku berikan dibuang sia-sia olehnya. Untuk apa lagi aku memberikan perhatian yang berlebih untuknya sedangkan ia sama sekali tak peduli dengan ku. Dia sama sekali tak berubah dan gag akan pernah berubah. Cukup sampai disini saja kita backstreet. Aku sudah cukup mengenalmu luar-dalam. Aku sudah tidak akan meragukan lagi perasaan ini.
Sudah cukup engkau mempermainkan perasaanku. Tak mengenal rasa sakitkah dirimu? Dia tahu betul letak kesalahan dia. Dia memang merasa bersalah, tapi ia tidak memperbaiki kesalahannya. Malah mengulang kembali kesalahannya. Dia memang mempunyai pengalaman buruk, tapi setidaknya jangan dilampiaskan padaku. Itu masa lalu dia, dan sekarang ya sekarang tolong jangan disamakan. Semua bisa berbeda dan berubah. Aku sangat menyayangkan sikap mu selama ini.
Aku tak ingin berurusan dengan mu lagi. Cukup lah dengan kita berteman saja, tanpa ada ikatan khusus kembali. Aku memang mantanmu, tapi bukan berarti kau seenaknya mempermainkan perasaan ku kembali semaumu. Cukup sudah kau menyakiti perasaanku untuk kedua kalinya. Ini yang terakhirnya untuk mu dan untukku. Kau dan aku memang tak berjodoh. Aku sudah cukup mengambil pelajaran dari mu. Sudah cukup. Dan aku sudah tak mau lagi dengan mu.
Maafkan aku teman-teman, aku mengambil keputusan sendiri, aku hanya ingin memberikan kesempatan kedua untuknya. Tapi semua itu sudah membuka mataku. Aku sudah mengerti semuanya. Aku tidak akan kembali padanya seandainya ia meminta ku untuk kembali. Never. Aku sekarang bisa tersenyum. Mengingat kebodohanku yang satu ini. Hahahaha....
Lagi lagi dia ragu akan perasaannya. Aku sempat bingung, sudah diberikan kesempatan kedua, namun malah begini jadinya. Susah ya menjadi tempat pelarian. Selalu tersakiti. Menjadi pihak yang terbebani dengan perasaan sendiri yang selalu saja memberikan harapan yang kelewat tinggi padanya. Pada mulanya tidak ingin memberikan harapan yang berlebih, namun hati ini terlalu rapuh sehingga dengan mudahnya ia mempermainkan kembali perasaan ini. Keraguan yang ia rasakan teramat menyakitkan. Tak ada kata ragu dalam suatu hubungan.
Semua ini karena kebodohan ku yang memberikannya kesempatan kedua, setelah ia dengan terang-terangan bercerita pada ku, kalau ia telah disakiti dan dipermainkan oleh seorang perempuan yang ia sukai. Ia bercerita seakan-akan hanya ia yang merasakan sakitnya menjadi permainan. Aku hanya masa bodoh saja. Aku bahkan mengucap rasa syukur, kalau ia merasakan hal itu juga. Walaupun kejam, tapi memang harus begitu. Ia terus bercerita, dan tidak pernah merasakan, membayangkan bagaimana perasaanku sebagai mantannya. Ia bercerita ia sangat mencintai perempuan itu. Bercerita tanpa dosa. Setelah ia puas menceritakan dari A-Z tentang hubungannya dengan perempuan itu yang sudah berakhir. Padahal mereka baru saja memulai proses pendekatan, tapi nyatanya perempuan itu malah memilih laki-laki lain daripada dia.
Di ujung sms’a, ia malah mengajakku untuk balikan dengannya. Setelah apa yang ia lakukan selama ini pada ku, dengan gampangnya mengajak balikan. Ada sedikit dendam di lubuk hatiku. Tapi sungguh aku tidak ingin melampiaskannya. Aku mengulur waktu, ketika ia terus bertanya bersediakah aku untuk balik lagi dengannya. Aku terus memantapkan kata-katanya. Ingat yang aku tulis hanya memantapkan kata-katanya, bukan hatinya. Karena aku tahu, sesungguhnya hatinya bukan untukku. Aku terus meyakinkan ia, kalau aku bukan hanya sekedar tempat pelarian saja, karena ia telah di kecewakan oleh perempuan itu. Dalam hati aku sungguh tak percaya lagi dengan kata-katanya mengenai cinta.
Akhirnya dengan sedikit rasa dendam di hati, dan banyak sekali setan yang membujuk untuk mengambil kesempatan ini. Akhirnya aku terima dia kembali, dengan alasan di hati hanya untuk mempermainkan ia kembali. Hanya 1 hari kami balikan. Karena sebenarnya aku juga tak tega melakukan itu semua. Karena kalau aku melakukan itu, apa bedanya aku dengan dia. Sama-sama menyakitkan. Tapi ada rasa di dalam lubuk hati ini, yang tak tega melepaskannya pergi. Akhirnya dengan segala macam alasan aku backstreet dengan dia. Sahabat-sahabat aku tidak tahu kalau aku backstreet dengan dia.
Pilihan ini aku rasa cukup adil. Mengingat image dia di mata teman-teman semua sudah teramat buruk. Sebagai seorang laki-laki, ia sudah tidak ada harganya lagi, semua perempuan mencela dia. Karena sikapnya yang gag konsisten, suka terhadap banyak perempuan. Memang beberapa teman laki-laki memberikan pandangannya terhadap perasaan suka itu, tapi apa yang dilakukan dia sangat kelewat batas. Ia menyukai banyak perempuan, tapi bukan aku pacarnya sendiri. Aku malu didepan teman-teman. Mereka mengasihi ku karena aku mendapatkan pacar sepertinya. Mereka bahkan senang waktu tahu aku putus dengan nya.
Sampai sekarang aku masih backstreet dengan dia. Tapi cukup sampai hari ini saja. Karena keraguan itu telah muncul, sehingga rasa sayang dia telah memudar untuk ku. Untuk apa lagi aku mempertahankan dia di sisiku. Sudah tak ada gunanya lagi. Jalan backstreet ini aku pilih untuk menguji seberapa seriusnya dia terhadapku. Tapi kesempatan yang telah aku berikan dibuang sia-sia olehnya. Untuk apa lagi aku memberikan perhatian yang berlebih untuknya sedangkan ia sama sekali tak peduli dengan ku. Dia sama sekali tak berubah dan gag akan pernah berubah. Cukup sampai disini saja kita backstreet. Aku sudah cukup mengenalmu luar-dalam. Aku sudah tidak akan meragukan lagi perasaan ini.
Sudah cukup engkau mempermainkan perasaanku. Tak mengenal rasa sakitkah dirimu? Dia tahu betul letak kesalahan dia. Dia memang merasa bersalah, tapi ia tidak memperbaiki kesalahannya. Malah mengulang kembali kesalahannya. Dia memang mempunyai pengalaman buruk, tapi setidaknya jangan dilampiaskan padaku. Itu masa lalu dia, dan sekarang ya sekarang tolong jangan disamakan. Semua bisa berbeda dan berubah. Aku sangat menyayangkan sikap mu selama ini.
Aku tak ingin berurusan dengan mu lagi. Cukup lah dengan kita berteman saja, tanpa ada ikatan khusus kembali. Aku memang mantanmu, tapi bukan berarti kau seenaknya mempermainkan perasaan ku kembali semaumu. Cukup sudah kau menyakiti perasaanku untuk kedua kalinya. Ini yang terakhirnya untuk mu dan untukku. Kau dan aku memang tak berjodoh. Aku sudah cukup mengambil pelajaran dari mu. Sudah cukup. Dan aku sudah tak mau lagi dengan mu.
Maafkan aku teman-teman, aku mengambil keputusan sendiri, aku hanya ingin memberikan kesempatan kedua untuknya. Tapi semua itu sudah membuka mataku. Aku sudah mengerti semuanya. Aku tidak akan kembali padanya seandainya ia meminta ku untuk kembali. Never. Aku sekarang bisa tersenyum. Mengingat kebodohanku yang satu ini. Hahahaha....
Langganan:
Postingan (Atom)