Minggu, 14 November 2010

sepatu senam

Tania dan Susan berteman akrab. Mereka beda jurusan namun, mereka berasal dari daerah yang sama yaitu di Magelang. Itu yang membuat mereka nyambung dalam keseharian, dalam berbahasa pun mereka lebih sering menggunakan bahasa jawa daripada bahasa indoneseia, karena sama-sama saling mengerti, jadi tak masalah bagi mereka. mereMereka satu asrama. Kebetulan kampus mereka menyediakan asrama untuk 1 tahun pertama. Dalam satu kamar, bisa menampung 4 orang mahasiswi. Kebetulan dua teman mereka sedang balik pulang, kerumahnya masing-masing. Sebenarnya Tania dan Susan juga ingin pulang, namun mereka hemat ongkos.

Di setiap minggunya ada kegiatan rutin yaitu senam bersama di kampus 2. Senam yang juga diikuti oleh ibu-ibu di lingkungan sekitar. Malam sebelumnya, Tania begadang nonton tv di ruang tengah asrama. Sehingga ia tidur larut malam. Baru jam 2 dini hari ia baru kembali ke kamarnya. Tania sudah menyetel alarm tepat pukul 4, saat adzan subuh berkumandang. Karena besok adalah hari minggu, Tania ingin sesekali mengikuti olahraga pagi. Katanya sie, banyak cowok-cowok yang ganteng yang ikut olahraga disitu. Lalu Tania segera pergi tidur, ditemani dengan iringan lagu Edcoustic, penyanyi favoritnya yang sedang mengalunkan tembang Muhasabah Cinta, yang ia dengar melalui earphone hp. Ia melihat Susan yang tertidur dibawah ranjangnya, mengingat ranjang mereka merupakan ranjang susun. Dan posisi Susan berada dibawah ranjang Tania.

“Tan,, ayoo bangunn sudah subuh..” tegur Susan sambil mengguncang-guncangkan badan Tania
“ hee,, iyyaa bentar lagi San.. kau saja duluan. Nanti aku segera menyusul.” Jawab Tania setengah sadar.

Alarm yang ia pasang ternyata sama sekali tak membangunkan Tania, yang tertidur lelap.
Susan segera keluar kamar dan mengambil wudhu untuk solat subuh. Susan memberinya waktu sampai ia selesai solat subuh pada Tania. Namun, selesainya Susan solat subuh, Tania tak kunjung bangun. Malah makin merapatkan selimutnya sampai menutupi kepalanya. Susan segera mengganti pakaian dengan pakaian olahraga.

“ Tan ayoo bangun,, kamu belum solat subuh.”
“ iya, bentar lagi San,, 5 menit lagii..” jawab Tania malas
“ daritadi 5 menit,, sekarang sudah hampir setengah jam, kamu bilang 5 menit lagi..”
“ hmmm… iyyyaaa..”
“ kamu jadi gag, ikut olahraga di kampus 2? Katanya kemarin pengen banget ikuut.”
“ memangnya kamu gag mau liad Toni, cowo inceran kamu itu, dikampus 2.. kan dia juga sering ikut olahraga pagi disana Tan..” rayu Susan
“ hah!! Masa!! Yang bener kamu San.. serius ahh..” tiba-tiba Tania bangun ketika Susan menyebut-nyebut nama Toni.

Sudah hampir sebulan ini, Tania suka sama Toni, mahasiswa beda jurusan dengannya tapi 1 angkatan. Pertama kali bertemu saat Tania mendorong motornya mogok, gara-gara keabisan bensin. Dan Toni datang menghampiri menawarkan bantuan untuk mendorong motornya sampai pom bensin yang terdekat. Disaat itu Tania mulai menyukai Toni. Apalagi Toni adalah mahasiswa fakultas seberang yang tak jauh dari fakultasnya. Tania semakin semangat untuk mendapatkan info tentang Toni.

“ yaudah San.. aku segera ganti baju yaa.. kamu tungguin aku..” Tania beranjak turun dari ranjang
“ jangan lupa salat subuh dulu, baru ganti baju..” Susan mengingatkan.
“ pasti sistaaa...” teriak Tania sambil berlari keluar menuju kamar mandi.

Begitu selesai solat dan ganti pakaian, ternyata Susan pergi meninggalkan Tania. Susan berangkat duluan bersama penghuni asrama yang lainnya. Setelah merapikan kerudungnya, ia segera mengambil sepatu di rak tanpa diperhatikan karena terburu-buru. Jam sudah menunjukkan jam 06.00. sudah sangat telat untuk senam. Ia segera memakai sepatu dan setengah berlari segera menyusul Susan dan yang lainnya.

Selama perjalanan, Tania merasa setiap orang yang berpapasan dengan dirinya memasang senyum menyindir. Orang-orang itu, memperhatikan Tania dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu tertawa kecil. Namun, sejenak Tania berhenti dan memandang kembali orang-orang itu.

“ mereka tak pernah melihat cewek cantik apa!!” umpat Tania dalam hati.

Tania tak memikirkan kembali. Tania melanjutkan perjalanannya menuju kampus 2. sambil sesekali berlari kecil, untuk menghemat waktu. Sebenarnya jarak antara asrama dengan kampus 2 tak jauh, hanya cukup 5 menit sudah sampai. Tapi berhubung, Tania masih mengantuk dan juga lelet, jadi butuh waktu 15 menit untuk sampai ke kampus 2.

Tania memasuki gerbang kampus 2, ia langsung menyorot dari ujung ke ujung, untuk mencari Susan dan yang lainnya. Didapatnya Susan dan teman-teman tengah asyik mengobrol dibawah pohon sambil menunggu acara senam dimulai. Tania langsung tersenyum, dan berlari menghampiri mereka. Namun, baru beberapa langkah, Tania melihat Toni sedang berlari mengelilingi lapangan bersama teman-temannya yang tak kalah ganteng. Sejenak Tania terhenti dan memandang Toni dari kejauhan. Senyum menghiasi wajah imut Tania. Jantung Tania berdegup dengan kencang saat Toni, berlari ke arahnya. Jantungnya semakin cepat berdetak. Tania jadi salah tingkah. Ketika Toni berlari melewatinya, Tania melihat Toni tersenyum padanya. Senyumnya manis sekali. Membuat Tania meleleh, seakan-akan es krim yang dijemur di tengah terik matahari.

“ Susaaannnn...!!!!!” teriak Tania setengah berlari menghampiri Susan
Susan sedikit terkejut, ketika tiba-tiba Tania memeluknya dari belakang.
“ astagfirullahaladzim.. Tania.. bikin kaget aja dehh”
“ hehehe.. maaf-maaf. Oia, udah mulai belum sie senamnya?”
Tanya Tania sambil cengar-cengir
“ belum nie, radio kaset yang biasa buat senam, belum disiapin. Lagipula instruktur senamnya, juga belum datang tau. Payah nie…” keluh Susan
“ oh gitu.. syukur deh..” kali ini Tania tak memandang Susan, matanya terpusat pada makhluk adam yang bernama Toni.
Susan menyadari, kalau temannya itu, tak memperhatikan apa yang dia ucapkan. Susan mengikuti kemana arah mata Tania.
“ hmm.. pantesss,, daritadi dicuekin,, lagi ngeliatin Toni tohh…” ucap Susan sambil memukul pundak Tania, agar sadar.
“ heheh… tau aja kamu San. Oia, hari ini aku cantik banget yaa..”
“ hah! Mank kenapa?”
“ daritadi banyak yang merhatiin aku tersu senyum sama aku..”

Susan memperhatikan sahabatnya ini, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ketika perhatiannya sampai pada ujung kaki, Susan langsung menggeleng-gelengkan kepala. Baru ingin saja memberitahu Tania, Tania sudah keburu menarik tangannya, ke tengah lapangan. Agar mendapatkan barisan paling depan. Susan yang ingin bicara, bahkan tak diberi kesempatan bicara.
Selama senam, Tania dengan semangat 45, mengikuti gerakan struktur senam. Apalgi tak jauh ada Toni yang sedang duduk istirahat bersama teman futsalnya. Selagi asyik senam, tak jarang ia mendengar suaru cekikikan ibu-ibu lain yang ikut senam.
Susan tak tahan dengar suara cekikikan ibu-ibu itu, ia segera menarik tangan Tania, untuk pulang ke asrama. Tania bingung kenapa Susan mengajaknya pulang. Tania gag mau pulang, karena masih ada Toni disitu. Dengan setengah berteriak Tania, bertanya pada Susan.
“ Susanti Atmawijaya,, kenapa kamu narik-narik tangan aku sie..!!” bentak Tania dengan nada yang lumayan cukup tinggi.
“ Tania Rahardi Kusuma.. dengerin baik-baik ya, aku ingin kita pulang.. negerti?”
“ kita? Kamu ajah gih yang pulang, napa harus aku sie,, aku masih pengen disini San..”
“ Tan,, kamu masih bertahan dengerin cekikikan ibu-ibu ataupun orang lain yang ngeliat kamu..?”
“ lho.. memang salah aku apa, sampai-sampai mereka ngeliatin aku?”
“ lho ya pasti ada yang salah sama kamu. Kenapa orang- orang di sepanjang jalan, Toni,dan Ibu-ibu pada tersenyum ngeliad kamu?”
“ memangnya kenapa? Bukannya karena aku cantik..”
“ ok, memang kamu cantik. Tapi kamu gag perhatiin sepatu yang kamu pakai yaa…
“ hah. Sepatu?”
Seketika Tania melihat kebawah. Melihat sepatunya. Apa ada yang salah dengan sepatunya.
Betapa terkejutnya Tania, ketika melihat sepatunya.
Ternyata dia memakai sepatu yang berbeda antara yang kanan dengan yang kiri. Tania langsung tersenyum meringis, dan menarik tangan Susan untuk segera kembali ke asrama. Susan hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya yang menahana malu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar