BACKSTREET
Lagi lagi dia ragu akan perasaannya. Aku sempat bingung, sudah diberikan kesempatan kedua, namun malah begini jadinya. Susah ya menjadi tempat pelarian. Selalu tersakiti. Menjadi pihak yang terbebani dengan perasaan sendiri yang selalu saja memberikan harapan yang kelewat tinggi padanya. Pada mulanya tidak ingin memberikan harapan yang berlebih, namun hati ini terlalu rapuh sehingga dengan mudahnya ia mempermainkan kembali perasaan ini. Keraguan yang ia rasakan teramat menyakitkan. Tak ada kata ragu dalam suatu hubungan.
Semua ini karena kebodohan ku yang memberikannya kesempatan kedua, setelah ia dengan terang-terangan bercerita pada ku, kalau ia telah disakiti dan dipermainkan oleh seorang perempuan yang ia sukai. Ia bercerita seakan-akan hanya ia yang merasakan sakitnya menjadi permainan. Aku hanya masa bodoh saja. Aku bahkan mengucap rasa syukur, kalau ia merasakan hal itu juga. Walaupun kejam, tapi memang harus begitu. Ia terus bercerita, dan tidak pernah merasakan, membayangkan bagaimana perasaanku sebagai mantannya. Ia bercerita ia sangat mencintai perempuan itu. Bercerita tanpa dosa. Setelah ia puas menceritakan dari A-Z tentang hubungannya dengan perempuan itu yang sudah berakhir. Padahal mereka baru saja memulai proses pendekatan, tapi nyatanya perempuan itu malah memilih laki-laki lain daripada dia.
Di ujung sms’a, ia malah mengajakku untuk balikan dengannya. Setelah apa yang ia lakukan selama ini pada ku, dengan gampangnya mengajak balikan. Ada sedikit dendam di lubuk hatiku. Tapi sungguh aku tidak ingin melampiaskannya. Aku mengulur waktu, ketika ia terus bertanya bersediakah aku untuk balik lagi dengannya. Aku terus memantapkan kata-katanya. Ingat yang aku tulis hanya memantapkan kata-katanya, bukan hatinya. Karena aku tahu, sesungguhnya hatinya bukan untukku. Aku terus meyakinkan ia, kalau aku bukan hanya sekedar tempat pelarian saja, karena ia telah di kecewakan oleh perempuan itu. Dalam hati aku sungguh tak percaya lagi dengan kata-katanya mengenai cinta.
Akhirnya dengan sedikit rasa dendam di hati, dan banyak sekali setan yang membujuk untuk mengambil kesempatan ini. Akhirnya aku terima dia kembali, dengan alasan di hati hanya untuk mempermainkan ia kembali. Hanya 1 hari kami balikan. Karena sebenarnya aku juga tak tega melakukan itu semua. Karena kalau aku melakukan itu, apa bedanya aku dengan dia. Sama-sama menyakitkan. Tapi ada rasa di dalam lubuk hati ini, yang tak tega melepaskannya pergi. Akhirnya dengan segala macam alasan aku backstreet dengan dia. Sahabat-sahabat aku tidak tahu kalau aku backstreet dengan dia.
Pilihan ini aku rasa cukup adil. Mengingat image dia di mata teman-teman semua sudah teramat buruk. Sebagai seorang laki-laki, ia sudah tidak ada harganya lagi, semua perempuan mencela dia. Karena sikapnya yang gag konsisten, suka terhadap banyak perempuan. Memang beberapa teman laki-laki memberikan pandangannya terhadap perasaan suka itu, tapi apa yang dilakukan dia sangat kelewat batas. Ia menyukai banyak perempuan, tapi bukan aku pacarnya sendiri. Aku malu didepan teman-teman. Mereka mengasihi ku karena aku mendapatkan pacar sepertinya. Mereka bahkan senang waktu tahu aku putus dengan nya.
Sampai sekarang aku masih backstreet dengan dia. Tapi cukup sampai hari ini saja. Karena keraguan itu telah muncul, sehingga rasa sayang dia telah memudar untuk ku. Untuk apa lagi aku mempertahankan dia di sisiku. Sudah tak ada gunanya lagi. Jalan backstreet ini aku pilih untuk menguji seberapa seriusnya dia terhadapku. Tapi kesempatan yang telah aku berikan dibuang sia-sia olehnya. Untuk apa lagi aku memberikan perhatian yang berlebih untuknya sedangkan ia sama sekali tak peduli dengan ku. Dia sama sekali tak berubah dan gag akan pernah berubah. Cukup sampai disini saja kita backstreet. Aku sudah cukup mengenalmu luar-dalam. Aku sudah tidak akan meragukan lagi perasaan ini.
Sudah cukup engkau mempermainkan perasaanku. Tak mengenal rasa sakitkah dirimu? Dia tahu betul letak kesalahan dia. Dia memang merasa bersalah, tapi ia tidak memperbaiki kesalahannya. Malah mengulang kembali kesalahannya. Dia memang mempunyai pengalaman buruk, tapi setidaknya jangan dilampiaskan padaku. Itu masa lalu dia, dan sekarang ya sekarang tolong jangan disamakan. Semua bisa berbeda dan berubah. Aku sangat menyayangkan sikap mu selama ini.
Aku tak ingin berurusan dengan mu lagi. Cukup lah dengan kita berteman saja, tanpa ada ikatan khusus kembali. Aku memang mantanmu, tapi bukan berarti kau seenaknya mempermainkan perasaan ku kembali semaumu. Cukup sudah kau menyakiti perasaanku untuk kedua kalinya. Ini yang terakhirnya untuk mu dan untukku. Kau dan aku memang tak berjodoh. Aku sudah cukup mengambil pelajaran dari mu. Sudah cukup. Dan aku sudah tak mau lagi dengan mu.
Maafkan aku teman-teman, aku mengambil keputusan sendiri, aku hanya ingin memberikan kesempatan kedua untuknya. Tapi semua itu sudah membuka mataku. Aku sudah mengerti semuanya. Aku tidak akan kembali padanya seandainya ia meminta ku untuk kembali. Never. Aku sekarang bisa tersenyum. Mengingat kebodohanku yang satu ini. Hahahaha....
boleh gak q curhat....
BalasHapuskasusnya sama dgn q...
q jg prnah backstreet dgn cwe tmnq jg kami satu kuliahan cuma beda kelas...kami dah sama2 pnya pcr masing2 tp gak tau kbtlan sama2 suka....nah trnyta dia ngajakin q backstreet...namanya q jg suka sama dia jadilah kami backstreet...kya org pcran kami smsan n tlpnan...namun cuma 4 hari q ad rasa mnyesal n kshan sama pcrq jd q ptuskan untuk akhiri backstreet kami ini....q liat tmnq ni sedih bget smpai nangis...q jg bgung harus berbuat apa...sampai skrg ni q g berhenti mkirin dia...apalagi kami dah mau lulusan dia y mau kembali ke kampungnya....apa yang harus q lakukan ya??? wisuda nanti terakhir kali ketemu dia dah???? mohon dibalas yaa q mnta solusinya(retroholic379@yahoo.com)