Sabtu, 26 Juni 2010

bekas pacar


Bekas pacar.

Dimana-mana yang namanya bekas pacar ya tetap saja bekas pacar. Kadang masih ada rasa sayang tertinggal, namun bercampu dengan rasa sakit ketika dulu disakiti. Apalagi kalau punya mantan pacar yang satu kelas. Wah, butuh perjuangan banged untuk melupakannya. Apalagi kalau mantan pacar itu adalah pacar pertama. Hmmm,, entah harus bagaimana lagi untuk menghapus perasaan itu.

Awal-awal pedekate sie, gag masalah. Sering atau rajin sms, tingkat kepedulian mendadak menjadi tinggi, sering mencuri-curi pandang, tingkat kerajinan masuk sekolah/kuliah juga naik drastis. Semua itu dilakukan hanya untuk mendapatkan perhatian saja. Pertama-tama sie sms yang wajar. Tapi lama-kelamaan menjurus kearah yang lebih lanjut. Tapi biasanya kalau sudah sms yang khusus, mereka memakai alibi kalau mereka sms itu hanya ‘bercanda, so.. jangan dianggap serius ya..!’. Maksudnya sms khusus ini, sms yang memakai kata-kata mesra, such as yank, say, beibh. Lalu so care bangedh, udah mam belum? Lagi ngapain? Udah pulang belum? Sama siapa?. Yah, pokoknya sms-sms yang sudah sewajarnya dilakukan ma sepasang kekasih deh.

Ketika intensitas sms semakin tinggi, yang membuat kantong jebol karena harus beli pulsa terus-menerus hanya demi bisa smsan ria dengan ‘dia’. Seminggu full rasanya sudah cukup ber-pedekate, akhirnya entah dengan serius atau bercanda, ‘dia’ akhirnya menyatakan perasaannya, melalui sms. Karena hanya dengan sms kami dapat berkomunikasi. Di kelas kami jarang bangedh terlihat ngobrol. Kami hanya saling memandang, lalu tersenyum malu. Semula aku tidak percaya dengan kata-kata dia, mengingat aku maupun dia pernah menggunakan alibi yang sama. Aku sempat mengulur waktu sebelum menjawab. Aku mempertanyakan keseriusan dia. Yah, sejauh itu dia sukses membuatku percaya, dan lalu menerimanya.

Awal-awal pacaran, dia tidak mau kalau hubungan ini terekspos oleh teman-teman satu kelas. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas dari awal, kita kan tidak backstreet, so kenapa harus ditutupi? Aku sempat kesal dengannya. Teman-teman akrab ku mengetahui itu, dan mereka memberiku nasihat, agar bersabar, mungkin dia bersikap seperti itu karena dia memang orangnya pemalu. Huftt,, ya sudah aku bersabar. Lama-kelamaan akhirnya memang sudah tersebar berita itu. Anak-anak sekelas sudah mengetahui kalau kami berpacaran. Aku sie cukup senang, karena dengan begitu aku diakui sebagai pacarnya si dia. Tapi sepertinya dia tidak senang. Tapi aku abaikan saja.

Sebenarnya sie, aku menerima dia pun tanpa rasa suka. Aku berpikir kalau tidak sekarang kapan lagi aku bisa mengawali masa pacaran. Istilah kasarnya sie, mumpung ada yang nembak atau ada yang mau. Beberapa hari pacaran dengan dia, sebenarnya bukan pacaran yang seperti ini yang aku mau, yang aku bayangkan. Dalam bayanganku, yang namanya seorang pacar itu, kemana-mana selalu berdua, antar-jemput, jalan-jalan berdua, malam mingguan, yah dll. Tapi dengan berbagai alasan dia tidak melakukan apa yang aku bayangkan. Dia masih saja cuek, pulang masing-masing, ga ada agenda malam mingguan. Hufhhtt,,, pacaran macam apa ini?? Aku sempat kesal dengannya, dia sms aku jutekkin saja. Dia merasa, kalau aku sedang kesal dengannya. Dia bertanya, “apakah sudah cukup sampai disini saja hubungan kita?”. Aku berpikir kembali, aku baru beberapa hari menjalin hubungan ini dengan dia. Kalau aku berhenti ditengah jalan, berarti aku kalah. Dan cukup sampai disitu perjuangan ku dalam cinta. Akhirnya aku melunak. Dengan segala alasan aku berikan padanya. Akhirnya dia bisa menerima alasan palsu ku. Dan hubungan kita pun masih berlanjut.

Beberapa bulan kemudian, kampus kami mengadakan acara ke puncak. Aku berpikir disana kami bisa bersenang-senang. Bisa berfoto bareng. Bisa menikmati acara sebagai sepasang kekasih. Namun, apa? Dia sama sekali tidak peduli denganku. Memang di acara itu ada peraturan yang pacaran tidak boleh berdua-duaan. Tapi yang namanya pasangan baru, memangnya dia sama sekali tidak mau, berdekatan sedikit pun dengan ku? Benar-benar menyebalkan. Selama acara berlangsung hanya dia yang ada dipikiranku saja. Entah kenapa hati ini berubah menjadi suka. Setelah pulang dari puncak, tingkah menjadi-jadi. Dia mulai berulah. Mulai menjauhiku tanpa sebab, sms atau telepon tak pernah dibalas dan dijawab. Mau dia apa sie sebenarnya? Aku mulai berkeluh kesah dengan para sahabatku. Mereka mengamini kalau dia memang sekarang sudah berubah. Tapi mereka tidak sanggup untuk melanjutkan ucapan mereka. Mereka hanya meminta aku bersabar dengan semua keadaan ini. Tanpa absen, tiap hari aku mengirim sms padanya, berkata, “jaga kesehatan ya, yank! Jangan lupa mam” begitu setiap hari. Dengan harapan ia akan membalas sms-sms itu, namun tidak sama sekali. Aku sedih.

Beberapa minggu, dia sudah sembuh. Dia kembali peduli dengan ku. Aku kembali senang. Bahkan kami semakin dekat, dan kami pun sudah tidak malu lagi, memperlihatkan kedekatan kami yang memang lebih dari teman. Pagi-pagi dikampus sudah berdua-duaan di loby fakultas. Semakin jarum jam naik ke atas, kami pun pindah lokasi. Yaitu di perpustakaan fakultas lantai 7. Pacaran yang cukup ideal bagiku. Pacaran sambil belajar. Kalau bosan di perpus, kami sering duduk-duduk di tangga. Sampai-sampai tukang bersih-bersih kampus mungkin menghapal wajah kami. Karena setiap kali tukan itu bekerja, pasti kami sudah stand by di tangga. Saat-saat itu yang membuat hatiku semakin berdebar. Aku merasa beruntung memilikinya. Perasaan cinta sudah tumbuh. Bunga-bunga kasmaran sudah berbunga. Akhirnya sudah 1 bulan kami berpacaran, kami merayakannya dengan nonton. Aku tak menyangka, aku bisa merasakan pacaran juga, mengingat sudah berapa kali cintaku di tolak semasa smp-sma. Aku rela melakukan apapun demi dia.

1 bulan telah berlalu. Dia mulai menunjukkan tanda-tanda tidak bersahabat kembali. Dia mulai menjauhiku tanpa sebab. Yah, pokoknya kembali berulah. Aku berpikir mungkin ini hanya sesaat. Dan dia mungkin akan kembali ke seperti semula. Namun, ini berbeda. Ia berani mengganti status fb kita menjadi it’s complicated. Aku sedih. Entah mengapa ada perasaan takut kehilangan dia. Hubungan kita menggantung. Aku curhat sana sini, minta saran, pendapat. Huhftt,, semua itu aku lakukan hanya untuk dia. Beberapa hari setelah 2 bulanan kita, akhirnya dia memutuskan hubungan ini. Betapa hancur hatiku, membaca sms dari dia. Seketika aku langsung menangis sejadi-jadinya. Kalau berakhir begini, kenapa tidak sejak dulu saja aku yang memutuskan dia. Akhirnya kami kembali menjadi teman. Yah,, cukup teman..

Namun, cerita tidak selesai sampai sini. Mantan pacar semakin berulah ketika sudah jomblo. Kalian tahu,, apa yang sebenarnya terjadi?

Setelah kami putus, kami masih menjalin silahturahmi dengan saling bersms. Suatu hari, dia sangat kesal. Dan dia luapkan semua amarahnya padaku. Aku tidak terima. Aku maki balik saja dia. Dia pikir dia sapa. Akhirnya dia melunak, dia mulai bercerita. Bagai tersambar petir membaca pengakuan dia di sms. Dia menyukai salah satu sahabat ku. Kalian tahu bagaimana perasaan ku saat itu. Sungguh sakit. Teramat sakit. Dada terasa sesak, tak terasa air mata jatuh membasahi pipi. Keesokan harinya, aku minta semua sahabatku berkumpul. Lalu aku menginterogasi sahabatku yang disukai oleh dia. Akhirnya mereka menceritakan semua yang selama ini mereka tutup-tutupi dariku. Mereka memilih bungkam, daripada aku sakit di awal-awal. Mereka lebih mengerti duduk permasalahannya. Aku hanya bisa mendengarkan dengan baik. Berkali-kali mereka minta maaf, karena tidak cerita, karena pada saat itu aku sedang senang-senangnya pacara. Oh my god,, dalam hati, kenapa baru sekarang kalian menceritakan semua ini padaku. Setelah cinta sudah berkembang sangat jauh di hatiku. Kenapa tidak dari awal saja. Aku hanya bergumam saja, aku tidak mampu berkata-kata. Mulut diam membisu.

Beberapa hari, aku mencoba menata ulang lagi hatiku. Aku tidak boleh egois. Aku tidak bisa menyalahkan sahabat ku itu. Karena sahabatku tidak salah. Lagipula sahabat ku sudah menolak dia dengan berbagai cara, mulai dari yang halus, sampai yang kasar sekalipun. Tapi tetap saja, dia mantanku itu tidak kapok. Selama ini sahabatku membalas sms-sms dari dia hanya untuk menjaga tali silahturahmi saja, tidak lebih dari itu. Tapi mantanku saja, yang berulah. Hmm,, capek hati juga punya mantan kaya gini. Tugas kuliah juga menumpuk, melupakan aku akan mantanku sejenak. Namun, giliran liburan tiba, perasaan kosong mendera hati. Tak ada yang bisa diajak sms. Karena selama ini, hanya dengan dia saja aku smsan. Teman-temanku sudah ku lupakan. Tapi ya sudahlah, mungkin aku harus beradaptasi dengan keadaan ku yang sekarang.

Mulai memasuki babak awal lagi dalam kuliah. Lagi-lagi, mantan ku berulah. Aku dengar dia sedang dekat dengan salah satu teman di kelas. Oh, pliss,, kenapa harus sekelas sie?? Cewe itu memank termasuk ke dalam 5 cewe yang mantan ku suka di kelas. Dan kalian tahu, aku tidak termasuk ke dalam 5 cewe itu, lalu selama ini, dia kenapa jadian dengan ku? Apa maksudnya? Aku kesal, aku luapkan perasaanku dengan menulis status di Fb. Yeess,, tepat sasaran!!Cewe itu merasa, kalau status yang aku tulis ditujukan padanya. Dia langsung mengklarifikasi tentang gosip itu. Yah, aku sie berpura-pura saja, status itu bukan buat dia. Aku berkamuflase. Berakting dikit boleh lah. Semakin hari, aku melihat status cewe itu juga semakin ekstrim. Dia menunjukkan kalau dia memang sedang dekat dengan seseorang. Aku tahu sapa orang itu. Siapa lagi kalau bukan bekas pacarku. Aku bisa saja tersenyum kalau sedang berpapasan dengan cewe itu, tapi entah mengapa rasanya sakit ya. Berpura-pura baik, padahal hati sedang galau.

Mungkin bagiku tidak masalah kalau bekas pacarku jadian lagi dengan cewe lain. Tapi bisa ga jangan teman sekelas. Kalian berdua ingin membuat ku panas ya!! Jahat sekali kalian berdua padaku. Masih ada rasa sayang yang tertinggal untuk mantanku, sampai aku belum mendapatkan penggantinya. Aku memang tidak punya hak lagi atas mantan ku. Sekali mantan ya tetap saja mantan. Mau dia melakukan apapun, sudah tidak ada sangkut pautnya lagi denganku. Aku sudah tidak berhak ikut campur dalam kehidupannya. Yah, mungkin ini satu pelajaran buatku dalam menghadapi mantan yang sering berulah. Terlalu sakit bila melihat tingkah lakunya. Terlalu sakit bila mengingat kenangan yang dulu pernah ku ukir bersamanya, begitu aku tahu kalau dia hanya berakting menyukai ku. Good job buat mantanku, kamu sudah berhasil membuat ku percaya akan kata-katamu yang terlalu manis untuk dikenang. Terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku, manis pahitnya, sudah aku rasakan semua. Bahkan ampasnya pun belum aku buang.

Aku bingung kenapa masih saja aku sayang dengan dia. Yang telah mengoyak-ngoyak hatiku. Dia permainkan seenaknya. Habis manis sepah dibuang. Hanya sebagai tempat pelarian saja. Hanya sebagai boneka. Apalagi ya?? Terlalu banyak rasa sakit yang ditinggalkan oleh mu wahai bekas pacar.

Mulai sekarang aku mulai menyibukkan diri dengan kesibukan. Aku mengikuti organisasi yang lumayan bisa menguras waktu aku. Sehingga aku tidak lagi sempat memikirkan rasa sakit hati ini. Lagipula untuk apa aku memikirkan seseorang, yang tidak sama sekali peduli dengan ku,, untuk apa, percuma...

Sudah terima saja kenyataan..

Sudah saatnya tutup buku..

Sudah saatnya menyiapkan buku baru untuk kehidupan yang baru..

Thanks my ex boyfriend

Tidak ada komentar:

Posting Komentar